Selasa, 21 Desember 2010

Atap Alang-Alang

Sejak ratusan tahun yang lalu tanaman rumput dimanfaatkan sebagai bahan penutup atap, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh penjuru bumi ini. Bahkan bangsa Inggris sudah menggunakannya sejak lebih dari 300 tahun yang lalu. 
Di Indonesia bahan atap rumput yang digunakan adalah rumput alang-alang  (Imperata cylindrica Sp.). Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti alalang, halalang (Minang), lalang (Melayu), eurih (Sunda), rih (Batak), jih (Gayo), ambengan (Bali), re (Sumbawa), rii (Flores), rie (Tanibar), reya (Sulawesi Selatan), eri, weli ( Ambon dan Seram), kusu-kusu (Menado, Ternate, Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba) dan lain-lain.

ATAP ALANGPROYEK LALANGATAP LALANG JINENG
Atap berbahan rumput alang memiliki karakter yang spesifik. Secara visual akan bangunan akan tampak lebih natural dan berkesan tradisional. Secara fisik ruang yang dinaungi oleh atap lalang akan lebih terasa sejuk dan nyaman. Karena celah antar rumput akan memungkinkan terjadinya pergerakan udara atau berperilaku sebagai ventilasi. Bahan atap lalang juga memiliki kemampuan untuk menyerap suara (absorbsi akustik).

Jangan berfikir bahwa hanya bangunan tradisonal di pedesaan yang menggunakan bahan penutup atap jenis ini. Karena atap lalang juga dapat digunakan bersama material bangunan modern lainnya, sehingga bangunan akan terlihat modern tapi bernuansa tradisional. Bahan atap lalang banyak diaplikasikan pada bangunan yang berfungsi sebagai hotel resort atau vila. Tapi bebererapa rumah di perkotaan juga menggunakan atap lalang ini.



Bentuk fisik atap lalang berupa lembaran dengan modul panjang 250 cm dan panjang rumput lalang yang terjuntai sekitar 70-80 cm.
Bahan utama atap lalang terdiri dari batang bilah bambu (tempat diikat dan dirangkainya rumput lalang), rumpun rumput lalang, dan tali. Tali pengikat terdiri dari 2 (dua) pilihan yaitu tali ijuk berwarna hitam dan tali bambu yang berwarna putih kekuningan. Tali ijuk lebih kuat dan tahan lama dibandingkan tali bambu, tetapi sebagian orang memilih tali bambu karena tampilan visualnya yang lebih indah.



Prosesnya dimulai dengan panen rumput lalang yang cukup tua. Kemudian dilakukan proses sortir sehingga hanya rumput lalang yang bermutu baik yang dapat digunakan.
Proses selanjutnya adalah proses pengikatan rumput lalang pada bilah bambu, yang dilakukan satu persatu atau per-rumpun. Jumlah helai rumput lalang dalam tiap rumpun inilah yang nantinya membentuk kualitas produk lalang yang terbagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu: tipis, sedang, dan tebal.


Setelah proses pengikatan selesai maka diperoleh produk jadi lembaran lalang atap. Tetapi lembaran atap lalang ini perlu dijemur atau diangin-anginkan, agar kelembabannya dapat dikurangi.
Kemudian lembaran lalang atap siap dimasukan ke dalam gudang penyimpanan, atau langsung dikirim kepada pembeli. Khusus untuk lalang atap yang akan diekspor harus menggunakan kemasan karung plastik khusus, berguna untuk memudahkan proses fumigasi (proses anti jamur) yang dliakukan oleh perusahaan cargo atau ekspedisi -sesuai regulasi internasional.


Atap yang menggunakan bahan lalang akan terlihat sangat indah terutama interiornya. Karena tak perlu membutuhkan langit-langit atau plafond, instalasi lalang yang terikat pada struktur atap akan terekspose sangat cantik. Terlebih bila menggunakan struktur atap gaya Bali yang susunan usuk-nya mirip seperti kipas.
Teknis pemasangan atap lalang adalah dengan cara diikat dengan menggunakan tali bambu. Lembaran alang-alang dirakit dan disusun secara horisontal pada usuk atap. Sudut kemiringan atap yang ideal untuk atap alang-alang adalah minimal 30 derajat. Apabila kurang dari itu akan beresiko terjadi kebocoran atap saat hujan. Selain itu akan mengurangi umur dari atap alag-alang itu sendiri.


Jumlah kebutuhan untuk 1 meter persegi atap adalah 8 lembar alang-alang. Untuk bagian sudut pertemuan kemiringan atap atau yang biasa di sebut bubungan (nok) dan jurai -dibutuhkan penutup yang di Bali disebut ambengan. Berupa rumpun alang-alang yang diikat menjadi satu mirip menyerupai ekor kuda. Jumlah ambengan tergantung bentuk atap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar